Berbagi pengalaman

Hakikat Puisi


Dalam buku Pengkajian Puisi” Rachmat Djoko Pradopo menerangkan bahwa hakikat puisi bukan terletak pada bentuk formalnya meskipun bentuk formal itu penting. Hakikat puisi ialah apa yang menyebabkan puisi itu disebut puisi – silakan lihat juga pengertian puisi. Puisi baru (modern) tidak terikat pada bentuk formal, tetapi disebut puisi juga. Hal ini disebabkan di dalam puisi modern terkandung hakikat puisi ini, yang tidak berupa sajak (pesamaan bunyi), jumlah baris, ataupun jumlah kata pada tiap barisnya.
Dari hakikat puisi diatas, Rachmat Djoko Pradopo membagi ke dalam tiga aspek yang perlu diperhatikan untuk mengerti hakikat puisi itu. Pertama sifat seni atau fungsi seni, kedua kepadatan, dan ketiga ekspresi tidak langsung.

Hakikat Puisi yang Kesatu: Fungsi Estetik
Puisi adalah karya seni sastra. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra. Rene Wellek dan Warren mengemukakan bahwa paling baik kita memandang kesusastraan sebagai karya yang didalamnya fungsi estetiknya dominan, yaitu fungsi seninya berkuasa. Tanpa fungsi seni itu karya kebahasaan tidak dapat disebut karya (seni) sastra, sementara itu kita dapat mengenal adanya unsur–unsur estetik (keindahan) misalnya gaya bahasa dan komposisi puisi sebagai karya sastra, maka fungsi estetiknya dominan dan didalamya ada unsur–unsur estetiknya. Unsur–unsur keindahan ini merupakan unsur–unsur kepuitisannya, misalnya persajakannya, diksi (pilhan kata), irama, dan gaya bahasanya.Gaya bahasa meliput semua penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu, yaitu efek estetiknya atau aspek kepuitisannya. Jenis–jenis gaya bahasa itu meliputi semua aspek bahasa, yaitu bunyi, kata, kalimat, dan wacana yang dipergunakan secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu itu. Semua ini merupakan aspek estetika atau aspek keindahan puisi.

Hakikat Puisi yang Kedua: Kepadatan
Membuat sajak itu merupakan aktifitas pemadatan. Dalam puisi tidak semua peristiwa itu diceritakan,yang dikemukakan dalam puisi itu hanyalah inti masalah, peristiwa, atau inti cerita,yang dikemukakan dalam puisi adalah esensi sesuatu. Jadi, puisi itu merupakan ekspresi esensi puisi karena puisi itu mampat dam padat, maka pemnyair memilih kata dengan akurat.
Untuk pemadatan ini, kadang–kadang kata–kata yang diambil inti dasarnya. Imbuhan, awalan, dan akhiran sering dihilangkan.

Hakikat Puisi yang Ketiga: Ekspresi yang tidak Langsung
Kiasan merupakan salah satu ekspresi atau pengucapan tidak langsung. Apakah ekspresi tidak langsung itu merupakan hakikat puisi? kitatinjau hal ini sebagai penjelasan berikut.
Dikemukakan oleh Rifatere bahwa sepanjang waktu, dari waktu ke waktu puisi itu selalu berubah. Perubahan itu disebabkan oleh evolusi selera dan perubahan konsep estetik akan tetapi, satu hal yang tidak berubah, yaitu puisi itu mengucapkan sesuatu itu secara tidak langsung. Ucapan tidak langsung itu ialah menyatakan sesuatu hal dengan arti yang lain.
Ketaklangsungan ekspresi ini menurut Riffatere disebabkan tiga hal, yaitu (1) penggantian arti (displacing of meaning), (2) Penyimpangan atau pemencongan arti (Distorting Of Meaning), dan penciptaan arti (Creating Of Meaning).

Demikian bahasan tentang hakikat puisi, semoga artikel tentang hakikat puisi ini dapat bermanfaat.
Daftar pustaka artikel.

Hakikat Puisi Rating: 4.5 Oleh: roi.kapaysyi