Hakikat Puisi

Hakikat, Puisi, Hakikat Puisi
Hakikat Puisi
Hakikat Puisi. Kajian teoretis dari primbon mana pun tidak akan pernah menyelesaikan bahasan puisi, karena keelastisan puisi itu sendiri sehingga sulit membakukan baik dalam bentuk, rasa, makna yang sama di setiap tempat, sebut saja pada selera pembaca dan tentunya penyair itu sendiri. Semua hal tersebut berhubungan dengan daya cipta dan ketidakpuasan manusia dalam kaca pandang otoritas, yang pastinya terus berkembang selama manusia mampu berpikir, hal ini lah yang menjadikan puisi adalah budak liar tanpa majikan, kemudian keliaran ini lah yang memicu apresiator dan pengkaji puisi berpikir keras dalam mengkaji puisi-puisi baru.


Hakikat puisi sesungguhnya ungkapan perasaan baik itu senang, sedih, kagum, haru dan banyak lagi yang dituangkan dalam bentuk tulisan, kemudian biasanya orang menulisnya dalam bait-bait yang kita kenal sekarang. Orang menulis puisi lebih pada kehendak untuk menunjukkan diri lengkap dengan pandangan dan bermacam olah rasa lainnya, tentunya jelas disini bahwa setiap penyair (penulis puisi) ingin dikenal atau paling tidak ingin berbagi rasa. Walau tak jarang benyak penulis yang memilih onani.

Jika dilihat, hakikat puisi berdasarkan pengertian puisi yang berasal dari bahasa Yunani Kuno yaitu puisi sebagai seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya. Maka, jelaslah bahwa puisi menjadi sarana penghubung antara jiwa yang satu dengan yang lain, menjadi jembatan dengan puisi sebagai alatnya.

Jika melihat apa yang diutarakan Rachmat Djoko Pradopo tentang hakikat puisi yaitu puisi bukan terletak pada bentuk formalnya meskipun bentuk formal itu penting.  Hakikat puisi ialah apa yang menyebabkan puisi itu disebut puisi. Puisi baru tidak terikat pada bentuk formal, tetapi disebut puisi juga. Hal ini karena dalam puisi baru (modern) terkandung hakikat puisi ini, yang tidak berupa sajak atau pesamaan bunyi, jumlah baris, ataupun jumlah kata pada tiap baris.

Dari hakikat puisi tersebut lalu Rachmat Djoko Pradopo membaginya ke dalam tiga aspek yang perlu diperhatikan untuk mengerti apa itu hakikat puisi. Pertama sifat seni atau fungsi seni, kedua kepadatan, dan ketiga ekspresi tidak langsung.

Fungsi Estetik
Puisi adalah karya seni sastra. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra. Rene Wellek dan Warren mengemukakan bahwa paling baik kita memandang kesusastraan sebagai karya yang didalamnya fungsi estetiknya dominan, yaitu fungsi seninya berkuasa. Tanpa fungsi seni itu karya kebahasaan tidak dapat disebut karya (seni) sastra, sementara itu kita dapat mengenal adanya unsur–unsur estetik (keindahan) misalnya gaya bahasa dan komposisi puisi sebagai karya sastra, maka fungsi estetiknya dominan dan didalamya ada unsur–unsur estetiknya. Unsur–unsur keindahan ini merupakan unsur–unsur kepuitisannya.

Kepadatan
Membuat sajak itu merupakan aktifitas pemadatan. Dalam puisi tidak semua peristiwa itu diceritakan, yang dikemukakan dalam puisi itu hanyalah inti masalah, peristiwa, atau inti cerita, yang dikemukakan dalam puisi adalah esensi rasa. Jadi, puisi itu merupakan ekspresi esensi puisi karena puisi itu mampat dan padat, maka penyair memilih kata dengan akurat. Untuk pemadatan ini, kadang–kadang kata–kata yang diambil inti dasarnya. Imbuhan, awalan, dan akhiran sering dihilangkan.

Ekspresi yang tidak Langsung
Kiasan merupakan salah satu ekspresi atau pengucapan tidak langsung. Apakah ekspresi tidak langsung itu merupakan hakikat puisi? Kita tinjau hal ini sebagai penjelasan berikut.

Dikemukakan oleh Rifatere bahwa sepanjang waktu, dari waktu ke waktu puisi itu selalu berubah. Perubahan itu disebabkan oleh evolusi selera dan perubahan konsep estetik akan tetapi, satu hal yang tidak berubah, yaitu puisi itu mengucapkan sesuatu itu secara tidak langsung. Ucapan tidak langsung itu ialah menyatakan sesuatu hal dengan arti yang lain.

Ketaklangsungan ekspresi ini menurut Riffatere disebabkan tiga hal, yaitu (1) penggantian arti (displacing of meaning), (2) Penyimpangan atau pemencongan arti (Distorting Of Meaning), dan penciptaan arti (Creating Of Meaning).

Demikian pembahasan sederhana tentang hakikat puisi yang mampu penulis rangkaikan, dengan mengambil dari banyak sumber, terima kasih.

Buku Acuan:
Pengkajian Puisi karya Rachmat Djoko Pradopo Th. 2009
Teori Kesusastraan karya Rene Wellek dan Autin Warren Th. 1993
Sumber hakikat puisi

Share:

Facebook Google+ Twitter Digg Reddit
 

Search Article Here

Loading...

Most Reading

Follow By Email